11 Februari 2009

Pengembangan Afeksi

PENGEMBANGAN AFEKSI DAN PEMBUDAYAAN PANCASILA
Oleh : Mujtahidin, S.Pd.

A. Pengertian afeksi
(91) Masalah yang berhubungan dengan pengertian afeksi:
adanya kekurangpahaman akan pengertian afeksi disebabkan dunia pendidikan Indonesia kurang mengembangkan afeksi hanya kognisi dan psikomotorik saja
(91) Aliran Rasionalisme:
aliran dalam dunia pendidikan yang hanya memperhatikan pengembangan rasio atau intelek atau kognisi saja
(92) Contoh pendapatnya:
kalau rasio peserta didik dapat dikembangkan dengan baik,maka semua masalah kehidupan dapat diatasinya dengan baik.
(92) Aliran Positivisme:
meyakini kebenaran adalah hal-hal yang dapat diamati oleh pancaindera, jikalau sesuatu tidak bisa diamati dengan pancaindera dipandang tidak benar
(92) Contoh pendapatnya:
hal-hal yang bersifat kejiwaan, seperti etika, nilai2, ketuhanandianggap tidak perlu diajarkan, dan materi yang diajarkan hanya obyek yang bisa dilihat, diraba didengar, dikecap dan berbau menuruti intelek kognisi
(92) Hasil penelitian (Usman,2001:5) menyatakan:
pendidikan kurang menekankan afeksi, kreativitas, berfikir, sikap membangun dan landasan moralitas, sehingga pendidikan menghasilkan kehidupan yang lebih bersifat materialistis.
(92) Hasil penelitian (Subiyanto,2007:4) menyatakan: bangsa2 yang maju di dunia seperti AS, kanada, Jepang, Jerman, Inggris menyatakan bukan karena penduduknya pintar2 melainkan karena sikap dan perilaku mereka, yang menjadi dasar komitmen, kerja sama, saling menghargai, dan saling membenatu dalam upaya mencapai target yang telah ditentukan
(93) Contoh penerapan afeksi di negara maju:
1. dalam recruiting karyawan yang ditanyakan hal afeksi (tanggung jawab, kerjasama, toleransi, kedisiplinan, mengenai kognisi (hanya dilihat ijasah/rapor terakhir), psikomotorik dilatih setelah diterima
2. ahli kemanusiaan dalam ukur kemampuan awalnya dari IQ (kognisi) beralih ke EQ (afeksi) karena mereka meyakini EQ lebih baik dari IQ dalam mengembangkan kehidupan secara lebih baik
3. menurut penelitian, IQ (kognisi) memberi kontribusi 20% dalam kesuksesan hidup sisanya ditentukan factor EQ (afeksi) atau sebagian besar peranan.
(94) Afeksi adalah:
Bagian jiwa manusia yang bertalian dengan kemampuan mengadakan kontak hubungan antar manusia, mengadakan kerjasama,tolong menolong, menghargai orang lain,mempertahankan keyakinan dan lainnya
(94) Struktur jiwa menurut Dewantara (bagan 16):
Cipta, rasa, karsa persamaannya, cipta=pikiran=kognisi, rasa=perasaan=afeksi, karsa=kemauan=afeksi. Ditambah karya (pada waktu golkar), karya=psikomotor
(95) Akuntabilitas adalah:
Tanggung jawab plus dan keterbukaan
(95) Contoh kasus:
kalau pendidik sudah menyelesaikan seluruh bahan ajarnya tepat waktu saja berarti sudah tanggung jawab, namun bila ditambah semua merasa puas dengan pengajarannya berarti akuntabel, tapi jika belum memuaskan hanya tanggung jawab saja terhadap pengajaran
(95) Kaitan antara sikap dan komitmen adalah:
sikap adalah kecenderungan seseorang yang masih dalam pikiran dan hatinya. Kalau sikap itu sudah direalisasikan dalam perilaku sehari hari maka sikap berubah menjadi komitmen (seks pranikah pada remaja)
(96) Maksud religius adalah:
perilaku seseorang yang belum diwujudkan dalam kehidupan nyata maupun sudah dilaksanakan bertalian dengan ajaran agama (sikap toleransi agama lain)

B. Pengertian budaya
(97) Devinisi budaya yang pertama:
semua hasil pikiran, perasaan,kemauan, dan karya manusia atau juga dapat disebut semua hasil afeksi, kognisi, psikomotor manusia
(97) Contoh afeksi, kognisi, psikomotor dalam budaya:
afeksi (adapt istiadat, tata cara pertemuan desa), kognisi (kreativitas membuat jalan layang, membuat kera bisa menari), psikomotor (kemampuan menabuh gamelan, menebang kayu dengan kapak)
(97) Unsur- unsur budaya:
1.gagasan 2.ideologi 3.norma 4.kepandaian 5.ilmu 6.teknologi 7.kesenian 8.benda buatan manusia
(98) Pengertian dari unsur budaya (bagan 17):
1. gagasan : awal dari sesuatu sebagai ciptaan manusia untuk kegiatan tertentu
2. ideology : ciptaan manusia yang sudah relative bertahan lama
3. norma : nilai2 kehidupan manusia yang diciptakan bersama serta dilaksanakan bersama di masyarakat
4. kepandaian : segala sesuatu yg telah dipelajari, kemudian menjadi milik dan isi kemampuan manusia yang dimanfaatkan untuk merealisasikan kehidupan
5. ilmu : teori2 yang dibangun berdasarkan hasil penelitian
6. teknologi : ilmu yang sudah diaplikasikan berupa barang atau benda
7. benda buatan manusia : teknologi, kesenian, barang lainnya
(98) Devinisi budaya yang kedua:
Cara hidup dan kehidupan yang sudah dikembangkan dan disepakati bersama oleh masyarakat
(98) Uraian cara hidup dan kehidupan:
1. Cara hidup : bagaimana seseorang menjalani hidupnya apakah dengan bekerja giat ataukah bermalasan bahkan hanya mengemis saja
2. Kehidupan : bagaimana wujud hidup seseorang apakah sengsara ataukah enak, mata pencaharian apa, kedudukan seperti apa
(99) Tinjauan pengertian budaya:
1. sangat luas : semua hasil budidaya manusia
2. agak terbatas : cara hidup dan kehidupan yang disepakati bersama oleh masyarakat
(100) Perbandingan antara kebudayaan dan peradaban:
Pada hakekatnya kebudayaan dan peradaban sama
1. kebudayaan : sesuatu yang sudah berkembang bisa individual bisa juga berkelompok
2. peradaban : lawan dari primitive (berkonotasi kelompok atau bangsa)
(100) Hubungan dengan Pancasila:
perlu dikembangkan agar bisa memiliki budaya Pancasila dalam kehidupan keseharian baik individu maupun kelompok, kalau berhasil oleh generasi penerus Indonesia mereka dapat disebut memiliki peradaban Pancasila
(101) Alasan Pancasila harus dilaksanakan dan dipertahankan:
karena Pancasila merupakan falsafah Negara, apapun yang dilakukan harus sesuai nilai Pancasila terutama perilaku diarahkan berbudaya Pancasila

C. Proses pengembangan afeksi dan budaya Pancasila
(101) Samawi (2001:107) mengatakan :
perubahan mulai dilakukan dengan meninggalkan banyak nilai lama, sementara nilai baru belum banyak dipahami dan dipegang, nilai baru itu adalah kebebasan, pluralisme, HAM, individualisasi dalam pendidikan, perubahan hanya dapat dilakukan dengan menempatkan kembali Pancasila di berbagai sendi kehidupan
(102) Pengembangan afeksi termasuk juga penanaman nilai2 pada sila sila merupakan juga pengembangan budaya yang adalah buatan manusia
(102) Proses pengembangan afeksi dijadikan satu dengan cara membudayakan Pancasila agar efisien baik konsep dan praktek di lapangan
(103) Sebab Pancasila tak disentuh dan diterapkan dunia pendidikan:
karena dianggap keramat, yang boleh membahas hanya BP7 pusat dan diuraikan yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun
(103) Hak otonomi dalam pembudayaan Pancasila adalah:
1. Hak untuk mensistematiskan cara cara membahas Pancasila
2. Hak untuk memberikan uraian tambahan agar lebih jelas
3. Hak untuk memberi contoh agar pemahaman menjadi lebih mantap
(104) Pembudayaan Pancasila secara sistematis:
1. Mendeskripsikan sila2 Pancasila
a. sila 1 oleh rohaniawan agama
b. sila 2 oleh ahli HAM & filosof
c. sila 3 oleh politisi & negarawan
d. sila 4 oleh politisi & ahli HAM
e. sila 5 oleh ahli ekonomi & budayawan
2. Dipakai langsung oleh kalangan perguruan tinggi
3. Untuk tingkat sekolah deskripsi perlu dijabarkan oleh ahli pendidikan tentang metodologi pembelajaran yang sesuai untuk tiap jenjang pendidikan
(105) Pendidikan yang mengandung banyak unsure afeksi (bagan 20):
1. pendidikan agama
2. pendidikan kewarganegaraan
3. pendidikan Pancasila
4. pendidikan seni dan budaya
(105) Dalam proses pembelajaran pengembangan afeksi peran pendidik sebagai fasilitator dengan tekanan kegiatan lebih diutamakan pada perilaku sehari2 atau praktek disbanding dengan memahami teori.

D. Pelibatan mata- mata pelajaran
(106) Masalah yang bertalian pelibatan mata pelajaran dgn afeksi adalah:
Pendidik tidak mengaitkan pelajaran satu dengan lainnya, pembuatan TIK & TUK yang hanya mengkotak2 pelajaran agar dapat diukur secara akademis dalam pengguasaan ilmunya, sehingga kalau TIK & TUK sudah tercapai dianggap selesai
(107) Akibat dari afeksi hanya sebagai pengiring saja adalah:
Terlihat sebagian ahli dan sebagian terampil tetapi banyak diantaranya nepotisme, korupsi,curang, mementingkan diri dan kelompok akibat dari sanubari yang tidak tersentuh dalam pendidikan
(107) Cara mengatasinya adalah:
Dalam mengembangkan afeksi tidak cukup hanya 4 pelajaran saja tetapi seluruh mata pelajaran dilibatkan dalam pengembangan afeksinya, tiap pelajaran saling mendukung dan dicari keterkaitan antar pelajaran,serta dicari bagian mana yang perlu dikembangkan afeksinya
(108) Contoh pelibatan pelajaran pada pengembangan afeksi adalah:
1. Formal : matematika (belajar kelompok), olah raga (tim bermain)
2. Non formal: Kejar paket ABC, ormas, lembaga belajar- lewat ceramah2
3. Informal: pendidikan keluarga, lingkungan masyarakata harus terarah & baik
(108) Mengapa pengembangan afeksi di nonfromal dan informal perlu?:
Karena sebagian besar pengembangan afeksi dilakukan di informal, keluarga dan masyarakat, sedangkan di formal dan nonformal hanya punya waktu sebentar. Sebaiknya ketiga jalur pendidikan dikelola bersama saling mendukung yang difasilitasi pemerintah dan masyarakat demi pengembangan peserta didik menjadi manusia yang dicita-citakan dalam tujuan pendidikan nasional

E. Evaluasi afeksi dan budaya
(110) Permasalahan bagi pendidik terhadap alat ukur afeksi:
pendidik terbiasa membuat evaluasi kognisi dan sedikit psikomotor seperti tes prestasi belajar dan daftar pertanyaan untuk mengetahui penguasaan materi pelajaran yang berorientasi akademik. Sebaliknya alat ukur afeksi sulit diketemukan dan dikreasikan. Oleh sebab itu pengembangan evaluasi afeksi tidak segera diikuti sosialisasi pembuatan alat ukur dan cara mengukur afeksi
(111) Ada 2 (dua) cara ukur afeksi:
1. alat ukur yang terbaik adalah kepribadian karena tingkat validitas dan reliabilitasnya bisa ditentukan, kesulitannya merumuskan tes tersebut. Ahli psikologi yang dapat pembuat tes ini psikometri
2. alat ukur kedua adalah dengan mengobservasi perilaku atau afeksi peserta didik (PPSNP,2005:49) cara ini lebih praktis namun tak sebaik uji ukur pertama karena bisa terjadi efek bias dan haloefek
(112) “Haloefek” artinya :
Pengaruh hubungan pendidik dengan peserta didik yang membuat bias observasi. Bila hubungan mereka jelek maka ditulis jelek, jika hubungan mereka baik ditulis baik tergantung kondisi waktu penilaian
(113) Hal- hal yang perlu dijelaskan dalam evaluasi model kedua:
Sebelumnya dijelaskan kepada siswa dan wali siswa tentang ada evaluasi afeksi
1. pelaksanaan evaluasi dilakukan oleh semua pendidik di lembaga tersebut
2. hasil evaluasi bisa diskor sendiri atau diserahkan ke guru maple afeksi
3. tidak perlu semua diobservasi, tapi hanya yang perilaku kurang baik dan baik sekali saja agar mudah
4. pedoman observasi berbentuk penilaian sehingga evaluasi bisa berbentuk skor
5. hasil penilaian skor afeksi dimasukkan dalam nilai rapor seperti biasa
(114) Menegur pada waktu ada kesalahan dan langsung memberikan penegasan tentang sikap yang salah, serta memberikan apresiasi positif bila ada siswa yang berbuat baik dengan memberi komentar yang baik dengan tujuan agar semuanya dapat menjadi perhatian seluruh peserta didik
(114) Meminta bantuan orang tua siswa agar mengawasi perilaku anaknya dengan pertemuan langsung atau telepon dan surat
(114) Pembuatan skor pada nilai afeksi (bagan 21):
Mata mata pelajaran yang mengandung unsur afeksi banyak Bobot skor
(1) Perilaku sehari- hari
(2) Penguasaan materi
(3) Ketrampilan 3
1
1
Mata mata pelajaran yang mengandung unsur afeksi sedikit Bobot skor
(1) Perilaku sehari- hari 3

(116) Alternativ pelaksanaan penilaian skor afeksi (bagan 22):
Alternativ I Semua pendidik menilai
Nilai diserahkan kepada Pembina/ guru mata pelajaran
1. Agama
2. Kewarganegaraan
3. Pancasila
4. Seni dan budaya
Alternativ II Semua pendidik menilai
Nilai dimasukkan sendiri ke dalam raport
Sehingga setiap pelajaran mengandung unsur skor
1. Afeksi
2. Kognisi
3. Psikomotor

(117) Sebaiknya alternativ yang dipakai adalah:
Alternativ kedua (II) lebih mudah diterapkan dan lebih baik karena setiap mata pelajaran akan terlihat nilai ketiga aspek yaitu afeksi,kognisi dan psikomotor sehinggan akan terlihat jelas dalam raport benar benar sesuai dengan teori evaluasi dengan demikian perhatian terhadap aspek yang ada dapat mendukung pengembangan manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan nilai nilai Pancasila

TANYA JAWAB:
PENGEMBANGAN AFEKSI DAN PEMBUDAYAAN PANCASILA

A. PERTANYAAN : TENTANG AFEKSI
1. Menurut pendapat saudara mengapa pengembangan afeksi sangat erat kaitannya dengan pembudayaan Pancasila? (Hal 91 : 1)
Jawab :
Pengembangan afeksi itu berkaitan sangat erat dengan pembudayaan Pancasila karena baik masalah yang dihadapi, cara mengembangkannya serta evaluasinya adalah sama.
Pembudayaan Pancasila dapat dikatakan sekaligus pengembangan afeksi (walaupun afeksi yang khas) karena di dalam Pancasila tersebut terdapat nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan Bangsa Indonesia, yang mana jika ini dikembangkan maka sama dengan mengembangkan aspek afeksi yang sesuai dengan kepribadian bangsa pada semua generasi bangsa Indonesia.
2. Mengapakah istilah, pengertian serta pentingnya afeksi seolah-olah belum banyak dikenal orang, sehingga mereka tidak menjadikannya sebagai hal yang penting dalam pencapain tujuan pembelajaran? (hal 91 : 2)
Jawab :
Hal ini karena pengembangan afeksi di Indonesia tidak dikembangkan dari sejak, pendidikan di Indonesia tidak banyak mengembangkan afeksi melainkan yang banyak adalah aspek kognisi dan psikomotor secukupnya.
Pengembangan afeksi hanya dijadikan dampak pengiring saja, karena pendidikan di Indonesia hanya menekankan pada aspek kognisi saja dan psikomotor secukunya.
3. Mengapakah pengembangan afeksi terabaikan cukup lama dalam Pendidikan di Indonesia? (Hal 91 : 3)
Jawab :
Pengembangan afeksi terabaikan cukup lama di Indonesia karena pengaruh aliran Rasionalisme dan positivisme, dimana Aliran Rasionalisme ini merupakan aliran yang hanya memperhatikan pengembangan rasio atau intelek saja (kognisi saja). Demikian pula dengan positivisme yang meyakini kebenaran adalah hal-hal yang bisa di amati oleh panca indra, sehingga sesuatu yang tidak bisa diamati oleh panca indra dipandang tidak benar.
Akibatnya : pengembangan afeksi terabaikan karena hal-hal yang menyangkut/ bersifat kejiawaan, seperti etika, nilai-nilai, ketuhanan diangap tidak perlu diajarkan kepada peserta didik. Dengan demikian, materi pelajaran terbatas pada obyek-obyek yang bisa dilihat, diraba, didengar, dikecap, dan bisa dibahu saja.
Tambahan : (halaman 101: 2) pengembangan afeksi ini dianggap damapak pengiring saja, artinya artinya afeksi ini dipandang akan berkembang secara otomatis ketika peserta didik belajar. Kondisi ini membuat orang-orang termasuk pendidik sulit memahami apakah yang dimaksudkan dengan afeksi serta sulit menemuka metode pembelajaran tentang pengembangan efeksi.
4. Apa dampak negatif jika pendidikan khususnya di Indonesia tidak mengindahkan pengembangan aspek afeksi pada peserta didik? (Hal 92 : 1)
Jawab :
Dampak negatif dari tidak mengindahkan/ memperhatikan pengembangan afeksi pada peserta didik dalam pendidikan adalah akan melahirkan kehidupan yang materialistis.
Hal ini sesuai dengan Hasil penelitian (Usman,2001:5), dalam Prof. Made Pidarta, yang menyatakan: ”pendidikan kurang menekankan afeksi, kreativitas, berfikir, sikap membangun dan landasan moralitas, sehingga pendidikan menghasilkan kehidupan yang lebih bersifat materialistis”
Materialistis artinya : faham kebendaan, hanya mementingkan harta benda atau aspek yang nyata saja, sedangkan nilai-nilai moral dan agama dllnya, tidak diindahkan. Kasus seperti: korupsi dllnya sebagai hasil dari kehidupan yang materialistis.
5. Apa alasan kuat yang mendorong kita harus lebih mengutamakan pengembangan afeksi dari pada kognisi pada peserta didik? (Hal 93-93 : 1-2)
Jawab :
Alasan pertama : bahwa hasil pendidikan dengan tanpa pengembangan afeksi atau pendidikan yang hanya bersifat intelektualistis tidak dapat menyelesaikan semua masalah dalam kehidupan manusia, karena nilai-nilai seperti tanggung jawab, kerja sama, toleransi, kedisiplinan dsb merupakan bagian dari afeksi.
Alasan kedua : Hasil-hasil penelitian dan praktek-praktek di lapangan tidak membenarkan kognisi itu memegang peranan utama dalam meningkatkan kemakmuran, kesejahteraan, dan kerja sama dunia.
Hasil penelitian (Subiyanto, dalam Pidarta) menyatakan: bangsa2 yang maju di dunia seperti AS, kanada, Jepang, Jerman, Inggris menyatakan bukan karena penduduknya pintar2 melainkan karena sikap dan perilaku mereka, yang menjadi dasar komitmen, kerja sama, saling menghargai, dan saling membenatu dalam upaya mencapai target yang telah ditentukan.
Alasan ketiga, bertolak dari beberapa perubahan pandangan para ahli berdasarkan hasil penelitian dimana afksi lebih diutamakan dari pada kognisi. Beberapa contoh yang mengacu pada perubahan pandangan ini :
1) Ketika perusahaan-perusahaan besar akan merekrut para karyawan, lebih banyak menanyakan hal-hal yang bertalian dengan afeksi, seperti yang banyak ditanyakan dalam wawancara adalah tanggung-jawab, kerjasama, toleransi, kedisiplinan, dsb. Sedangkan mengenai kognisi hanya dilihat nilai rapor dan ujian akhir, psikomotorik dilatih setelah diterima resmi menjadi karyawan.
2) Beralihnya perhatian para ahli kemanusiaan yang memandang afeksi lebih penting dari pada kognisi, dimana para ahli dalam menilai ukuran kemampuan sesorang, berubah dari yang semula IQ menjadi EQ, hal ini berarti mereka meyakini EQ lebih baik dari IQ dalam mengembangkan kehidupan secara lebih baik
3) Pada waktu ini afeksi lebih penting/ diutamakan dari kognisi, dimana hasil dari beberapa penelitian, yang salah satunya mengatakan IQ (kognisi) memberi kontribusi 20% dalam kesuksesan hidup sisanya ditentukan oleh faktor-faktor lain terutama EQ (afeksi). Beberapa hasil penelitian ini jelas menunjukkan kemamuan kognisi seseorang dapat membantu dirinya dalam meningkatkan kehidupan adalah hanya 1/5 dari seluruh struktur jiwa, sementara afeksi memegang peranan yang cukup menentukan.
6. Jika kita mebandingkan antara aspek kognisi dan afeksi, manakah diantara kedua aspek tersebut yang lebih dominan membantu sesorang dalam meningkatkan kualitas kehidupannya? (Hal 93 : 2)
Jawab :
Dari beberapa hasil penelitian, menunjukkan kemampuan kognisi seseorang dapat membantu dirinya dalam meningkatkan kehidupan hanya 1/5 dari seluruh struktur jiwa, sementara afeksi memegang peranan yang cukup menentukan, dimana IQ (kognisi) memberi kontribusi hanya 20% dalam kesuksesan hidup sisanya ditentukan oleh faktor-faktor lain terutama EQ (afeksi).
Tambahan : selain dari aspek EQ yang di atas, maka saya mengutipkan dari salah satu buku Prof. Made Pidarta,Esesnsi Agam Hindu, dimana di halaman 97 beliau kemukakan bahwa : salah satu konsep yang sejajar dengan IQ dan EQ adalah SQ (berkaitan dengan ajaran agama karena lebih bayak diturunkan dari ajaran-ajaran agama). SQ ini menyangkut hakiki dan kata hati manusia yang paling dalam. Para ahli mengemukkan konsep SQ ini dapat meredam gejolak manusia untuk mengarah pada keterlibatan dan kedamaian manusia. Aspek SQ ini pada dasarnya lebih dekat kepada aspek afeksi menyangkut/ bersifat kejiawaan, seperti keyakinan keada tuhan, etika, nilai-nilai, dimana manusia belajar beretika yang benar, bekerja sama, jujur, lurus, benar, bergaul secara harmonis, dermawan, dll-nya (Pidarta, Hal:100).

B. PERTANYAAN TENTANG : BUDAYA
7. Tolong berikan gambaran secara jelas sehingga dapat kita menarik benang-merah, hubungan antara struktur jiwa manusia menurut Dewantara dengan budaya itu sendiri? (hal 94 : 2)
Jawab :
Hubungan antara struktur jiwa manusia dengan budaya menurut Dewantara :
No Struktur Jiwa Manusia Jadi SJM Hub.dgn.budaya
Dewantara Golkar Ahli Barat
1 Cipta → Pikiran Kognisi KOGNISI Semua hasil dari Pikiran
2 Rasa → Perasaan Afeksi AFEKSI Perasaan
3 Karsa→ Kemauan Afeksi Sda Kemauan
4 - Karya Psikomotor PSIKOMOTOR Karya Manusia
Catatan : Budaya artinya : semua hasil pikiran, perasaan,kemauan, dan karya manusia atau juga dapat disebut semua hasil afeksi, kognisi, psikomotor manusia (Pidarta, 97)
8. Pada zaman Orde Baru, pernah diuayakan dan dilakukan pembudayaan Pancasila melaui penataran P-4, namun hal ini dianggap gagal. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? (Hal 96 : 3)
Jawab :
Hal tersebut terutama terjadi karena kekurang-fahaman terhadap makna budaya itu sendiri, dimana ada saat itu dimaksudkan adalah memasyarakatkan dan membudayakan Pancasila namun, bukanya menamkan nilai-nilai (aspek afeksi)nya, melainkan hanya menanamkan pemahaman isi dan materi Pancasila saja. Akibatnya, tidak ada perkembangan sedikitpun pada para pengikutnya mengenai budaya Pancasila. Mereka tetap saja berperilaku seperti biasanya, walaupun sudah diberikan penataran beberapa kali.
Tambahan : pembudayaan Pancasila ada zaman orba bahkan salah kaprah karena Pancasila dianggap keramat, sehingga yang boleh membahas hanyalah BP-7 pusat saja dan yang boleh menguraikannya hanya BP-7 Pusat saja dan tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun
9. Apa beda antara pengertian budaya dalam makna sangat luas dan agak terbatas? (Hal 99 : 2)
Jawab :
Pengertian budaya yang pertama (sangat luas) mengacu pada semua hasil budi daya manusia, bahkan sampai upaya manusia membuat esawat ruang angkasa, ke luar angkasa, mengurangi pemanasan gelobal, dan lainnya, yang mengacu pada semua hasil pikiran, erasaan, kemauan, dan karya manusia atau dapat juga disebut semua hasil afeksi, kognisi mauun psikomotor manusia.
Sedangkan pengertian kedua (agak terbatas) konotasinya terbatas pada cara hidup dan kehidupan masyarakat pada umumnya. Cara hidup menyangkut bagaimana seseorang menjalani hidup, apakah giat, malas bahkan mengemis, dan kehidupan adalah bagaimana wujud hidup seseorang, apakah enak, sengsara, serta kedudukannya seerti apa. Cara hidup dan kehidupan (yang positif) itu harus mendapatkan kesepakatan bersama. Sehingga budaya dalam pengetian ini menyangkut hal-hal yang positif, bukan yang negatif seperti mencuri, menculik, menteror dll
10. Kita sering mendengar istilah yang sangat erat sekali yakni kebudayaan dengan peradaban, apakah sebanarnya persamaan dan perbedaan antara kebudayaan dengan peradaban?, (Hal 100 : 1)
Jawab :
Pada hakekatnya kebudayaan dan peradaban sama yakni menunjukkan masyarakat yang sudah berkembang, hanya saja kebudayaan : sesuatu yang sudah berkembang bisa individual bisa juga berkelompok sedangkan peradaban : lawan dari primitive (berkonotasi kelompok atau bangsa) artinya kebudayaan suatu kelompok besar atau bangsa yang sudah maju.
Tambahan :
No Budaya/ Kebudayaan Beradab/ Peradaban Persamaan Ket
1 Sudah berkembang Lawan dari primitif berarti tidak primitif (sudah berkembang) Sama-sama sudah berkembang Maknanya sama
2 Sesuatu yang sudah berkembang, bisa individu atau kelompok. Karena itu budaya manusia dapat berbeda-beda. Mencakup masyarakat luas (Kelompok/ bangsa). Atau kebudayaan suatu kelompok besar/ bangsa yang sudah maju Sudah berkembang Kebudayaan bisa indiv./klp. Sedangkan peradaban klp. Masy.

11. Apakah oriantasi dari pengembangan afeksi dan pembudayaan Pancasila bagi Pendidikan di Indonesia? (Hal 100 : 2)
Jawab :
Orientasinya adalah mengembangkan peserta didik agar bisa memiliki budaya Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun kelompok. Jika upaya ini berhasil pada peserta didik kita tang meruakan para penerus bangsa ini dan tidak hanya kepada eserta didik, melainkan setia komponen bangsa Indonesia, maka hasilnya adalah akan dapat menjadikan semua masyarakat/ bangsa Indonesia yang berperadaban Pancasila.
Tambahan : Pengembangan afeksi dalam Pendidikan di Indonesia haruslah sekaligus dengan membudayakan Pancasila, sebab jika nilai-nilai Pancasila sudah dapat dikembangkan dan diperaktikkan/ dilaksanakan dengan baik dalam kehidupan bangsa Indonesia, maka itu berarti Bangsa Indonesia dapat disebut sebagai Bangsa yang berperadaban Pancasila.
12. Mengapa pengembangan AFEKSI jika dikaitkan dengan BUDAYA dan PANCASILA menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya khususnya bagi pendidikan di Indonesia? (Hal 101 : 1)
Jawab :
Karena afeksi itu merupakan bagian dari budaya dan bahkan pendidikan itu sendiri merupakan bagian dari budaya, dan Pancasila itu adalah Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa (falsafah negara).
Demikian pula, Pancasila merupakan Idiologi Bangsa Indonesia, yang berarti merupakan budaya bangsa Indonesia sebab idiologi merupakan bagian dari budaya, sedangkan afeksi itu adalah bagian dari budaya yang meliputi segenap perasaan dan kemauan manusia. Jadi, jika pengembangan afeksi dalam pendidikan di Indonesia dikaitkan lansung dengan pembudayaan Pancasila, maka itu berarti telah mengembangkan generasi bangsa Indonesia yang berperadaban Pancasila.
Tambahan : Karena Pancasila itu merupakan falsafah negara. Artinya, apapun yang dilakukan oleh bangsa Indonesia harus tunduk dan sesuai dengan sila-sila Pancasila. Terutama perilaku anak bangsa ini harus diarahkan agar berbudaya Pancasila, dimulai dari pengembangan afeksi di lembaga-lembaga pendidikan. Sangat keliru jika pendidik jika menganak-tirikan Pancasila, bahkan tidak mau menyinggung sama sekali kata Pancasila.Memajukan Pendidikan Pancasila berarti juga memajukan pengembangan afeksi, sebab pendidikan Pancasila adalah salah satu materi untuk mengembangkan afeksi peserta didik.
C. PERTANYAAN TENTANG PROSES PENGEMBANGAN AFEKSI DAN BUDAYA PANCASILA
13. Apakah saat ini pengembangan efeksi telah diupayakan dalam pendidikan di Indonesia serta bagaimana kenyataanya di lapangan? (Hal 101 : 2)
Jawab :
Saat ini baru saja diupayakan dilakukan, namun demikian para konseptor lebih-lebih para pelaksana di lapangan masih mengalami kebingungan
Kenyataan di lapangan adalah masih banyaknya orang atau pendidik kebingungan dengan perubahan tersebut, sebagaimana yang dikemukakan oleh Samawi (dalam Pidarta : 101), bahwa perubahan mulai dilakukan dengan meninggalkan banyak nilai lama, sementara nilai baru belum banyak dipahami dan dipegang, nilai baru itu seperi kebebasan, pluralisme, HAM, individualisasi dalam pendidikan.
Nilai-nilai baru ini banyak unsur afeksinya. Perubahan hanya dapat dilakukan dengan menempatkan kembali Pancasila sebagai paradigma dalam pembangunan pendidikan nasional. Jadi menurut Samawi, selain Pancasila sebagai dasar negara juga harus dijadikan dasar pengambangan pendidikan.
Tambahan : menurut PPSNP, bahwa kompetensi lulusan peserta didik meliputi pengetahuan, sikap dan keteramilan, sikap artinya afeksi, jadi saat ini telah dikaukan perubahan pandangan menuju pengembangan afeksi, namun demikian masih belum bisa diterakan dengan baik karena orang-orang utamanya pendidik masih bingung dengan perubahan tersebut.
Tentang kenyataan dilaangan, juga yang terjadi adalah pendidik masih kebingungan untuk membuat alat evaluasi afeksi.
14. Mengapa proses pengembangan afeksi dijadikan satu dengan yang cara membudayakan Pancasila? Bagaimanakah jika seandanya dikembangan secara terpisah? (Hal 102 : 2-3)
Jawab :
Proses pengembangan afeksi dijadikan satu dengan cara membudayakan Pancasila agar efisien baik konsep dan praktek di lapangan, jadi dalam melaksanakan pengembangan afeksi dan pembudayaan Pancasila dalam diri para peserta didik di setiapap lembaga pendidikan cuku dijadikan satu saja.
Jika dikembangkan secara terpisah, maka didaklah efesien karena pengembangan afeksi yang antara lain termasuk penananaman sila-sila Pancasila pada peserta didik merupakan pengambangan budaya, sebab afeksi itu sendiri yang termasuk nilai-nilai butan manusia adalah termasuk budaya, sedangkan Pancasila itu juga adalah budaya bangsa Indonesia, jadi dengan mengembangkan afeksi dan membudayakan Pancasila akan menjadi lebih efesien jika digabungkan (dijadikan satu). (Contoh pada halaman 102 : 2)
15. Apakah maksudnya Pancasila dianggap keramat? (Hal 103 : 1-2)
Jawab :
Pancasila dijadikan keramat maksudnya adalah pada zaman orde baru, pancasila hanya boleh disentuh oleh BP-7 Pusat saja, sehingga hanya BP-7 Pusat-lah yang diberikan izin untuk menguraikan Pancasila menjadi butir-butir Pancasila sebayak 45 Butir.
Tambahan, keramat artinya tidak berani disentuh, ini terjadi pada zaman orde baru, tapi sekarang zaman sudah berubah dimana Pancasila tidak perlu dikeramatkan, melainkan orang-orang berkecimpung dalam dunia pendidikan perlu diberikan hal dan kesempatan untuk menganalisis dan menguraikan Pancasila agar dapat diterapkan dalam dunia pendidikan yang ditekuninya.
16. Apakah yang dimaksud dengan hak Otonom dalam kaitannya dengan pembudayaan Pancasila? (103 :2)
Jawab :
Hak otonom ini artinya hak untuk membudayakan Pancasila itu sendiri, yang meliputi al :
1. Hak untuk mensistematiskan cara cara membahas Pancasila
2. Hak untuk memberikan uraian tambahan agar lebih jelas
3. Hak untuk memberi contoh agar pemahaman menjadi lebih mantap
4. Demikian pula, hak untuk memasukkan sila-sila Pancasila pada setiap mata pelajaran yang diajarkan, manakala kesempatan secara wajar ada pada saat itu.
17. Saat ini masih bayak yang belum faham tentang pembudaaan Pancasila itu sendiri, demikian juga tentang afeksi. Lalu bagaimanakah cara kita membudayakan Pancasila tersebut secara sistematis, sehingga kita dapat sekaligus mengembangkan afeksi peserta didik dan tidak akan terjebak dalam pengembangan kognisi yang sifatnya hafalan saja? (Hal 105 : 2-3)
Jawab :
Pembudayaan Pancasila secara sistematis dapat dilakukan dengan 3 tahapan, yang harus dilakukan:
1) Mendeskripsikan sila2 Pancasila oleh para pakar (sila 1 oleh rohaniawan agama, sila 2 oleh ahli HAM & filosof, sila 3 oleh politisi & negarawan, sila 4 oleh politisi & ahli HAM, dan sila 5 oleh ahli ekonomi & budayawan)
2) Dipakai langsung oleh kalangan Perguruan Tinggi karena mereka sudah bisa mencari dan menganalisi secara ktitis materi-materi pelajaran untuk keentingan peserta didiknya.
3) Untuk tingkat sekolah deskripsi perlu dijabarkan oleh ahli pendidikan tentang metodologi pembelajaran yang sesuai untuk tiap jenjang pendidikan, baru kemudian dapat dimanfaatkan oleh para pendidik (guru) di lembaga pendidikan.
Tambahan : selain 3 tahapan yang sistematis di atas, maka dalam proses pembelajaran pendidik Ditekankan pada prilaku sehari2 daripada teori2, seperti: prilaku siswa dalam kehidupan bersama baik di dalam maupun di luar kelas, bertindak demokratis dalam bayak hal di lembaga pendidikan sehingga dengan demikian embudayaan nilai-nilai pancasila dapat dilakukan dengan baik.

18. Bagaimanakah proses pembelajaran untuk mengembangkan afeksi termasuk membudayakan Pancasila tersebut? (Hal : 105 : 2)
Jawab :
Dalam hal proses pembelajaran, pengembanagan afeksi dan pembudayaan Pancasila dapat diuraikan sbb:
No Guru Siswa Unsur Afeksi Budaya Pancasila
1 Sebagai Fasilitator, menyiapkan segala perlemgkapan belajar, ruang kelas, media, alat dlll - - -
2 Dalam PBM, tetap memperhatikan sambil memberikan bimbingan, teguran, maupun sanjungan Aktif berbuat, berbicara, baik individu maupun kelompok, mencari, menganalisis, mensintesis, serta menyimpulkan.
Jadi siswa melaksanakan kewajiban sampai selesai Ditekankan pada prilaku sehari2 daripada teori2, seperti:

- prilaku siswa dalam kehidupan bersama baik di dalam maupun di luar kelas
- bertindak demokratis dalam bayak hal di lembaga pendidikan Menekankan pada nilai-nilai Pancasila seperti dalam unsur afeksi, al :
- nilai kemanusiaan



- nilai demokrasi
- dll

D. PERTANYAAN TENTANG : PELIBATAN MATA-MATA PELAJARAN
19. Dalam praktek pembelajaran selama ini, apa saja kasus yang menjadi masalah di dalam kelas, yang berkaitan dengan pengembangan afeksi? ((Hal 106 : 3)
Jawab :
Beberapa kasus yang menjadi masalah selama ini adalah al :
1) Pendidik atau guru masih mengajar secara terpisah artinya tidak mengkaitkan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya
2) Kebiasaan para pendidik membuat TPU maupun TPK masih terkotak-kotak, terpisah antara yang satu dengan yang lainnya, dengan maksud agar mudah diukur. Hal ini sebenarnya bersifat akademis saja, dan pendidik akan merasa berhasil jika tujuan-tujuan yang telah ditetakan telah tercapai.
3) Afeksi hanya dijadikan dampak pengiring saja, hanya dianggap akan muncul dengan sendirinya.
Tambahan : masalah mendasar sebenarnya dalam proses pembelajaran selama ini adalah tidak ditekankan pada aspek efeksi sehingga guna mengatasi hal ini, maka kita harus lebih menekankan pada pengembangan afeksi pada semua mata pelajaran secara terintegrasi. Dengan cara ini berarti kita telah mengaitkan suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Demikian pula, tujuan dari proses pendidikan menjadi lebih integratif, tidak terkotak-kota seperti dahulu.
Jadi Cara mengatasinya adalah: Dalam mengembangkan afeksi tidak cukup hanya 4 pelajaran saja tetapi seluruh mata pelajaran dilibatkan dalam pengembangan afeksinya, tiap pelajaran saling mendukung dan dicari keterkaitan antar pelajaran,serta dicari bagian mana yang perlu dikembangkan afeksinya
20. Apa akibat/ dampak dari aspek afeksi yang selama ini dijadikan dampak pengiring saja? (Hal 107:2)
Jawab :
Para lulusannya memang tampak sebagian ahli pada bidang-bidang tertentu dan sebagian terampil, akan tetapi banyak diantara mereka melakukan kecurangan, nepotisme, korupsi, dan mementingkan diri sendiri atau kelompok, akibatnya hati sanubarinya tidak tersentuh dalam dunia pendidikan
21. Apakah pengembangan afeksi cukup hanya pada mata pelajaran Pancasila saja? (Hal 107 : 3)
Jawab :
Tidak cukup, melainkan semua mata pelajaran yang di berikan di lembaga pendidikan harus dilibatkan dalam pengembangan afeksi. Tiap-tiap mata pelajaran harus mendukung pengembangan afeksi, sebab pada hakikatnya tiap-tiap mata pelajaran memiliki kandungan efeksi untuk diinternalisasikan oleh peserta didik. Dengan cara ini berarti kita telah mengaitkan suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Demikian pula, tujuan dari proses pendidikan menjadi lebih integratif, tidak terkotak-kota seperti dahulu.
22. Bagaimanakah cara pengembangan afeksi di pendididikan non-formal maupun informal? (Hal 108 : 2-3)
Jawab :
Non-formal: materi pelajaran kejar paket A, B, C. Kecuali dalam bentuk ormas, lembaga belajar dapat dilakukan melalui ceramah2
Informal: pendidikan keluarga, lingkungan masyarakat dapat dilakukan melalui ceramah2 juga.
Tambahan : Saya menyampaikan apa yang dikemukakan Prof. Made dalam artikel beliau yang berjudul Pengembangan Pendidikan Informal. Disana beliau kemukakan bahwa : ada 3 wahana yang berpengaruh besar terhadap perkembangan anak dan remaja, yaitu : 1) tayangan televisi, 2) pergaulan sehari-hari di masyarakat, dan 3) kehidupan dalam keluarga. Dengan demikian pengembangan afeksi dalam lingkungan pendidikan informal ini dapat dilakukan melalui 3 jalan tersebut, dimana antara lain:
1) Para pengelolan televisi harus menyadari bahwa tayangan televisi harus dijadikan wahana pendidikan informal yang paling potensial untuk menididik warga belajar. Pengelola televisi sebaiknya jangan memandang televisi sebagai media bisnis saja. Mereka sebaiknya bekerja sama dengan badan pembina masyarakat dan subbag. Pendidikan Informal Departemen Pendidikan untuk mengadakan kesepakatan tentang hal2 yang bertalian dengan sarana pendidikan ini.
2) Pendidikan melalui pergaulan sehari-hari dalam masyarakat dapat dilakukan dengan mengotimalkan pengaruh-engaruh positif, peran organisasi2 kemasyarakatan diharapkan lebih dominan dalam mengembangan masyarakat sehingga masyarakat benar2 dapat menjadi wahana pengembangan afeksi warga belajar. Beberapa indikator pendukung pembahruan masyarakat yang baik antara lain : - memberdayakan warga masyarakat, melakukan diskusi terbuka, manaruh minat terhadap budaya sendiri dan sekitarnya, menghargai sejarah dan pekerjaan dllnya.
3) Pendidikan dalam keluarga, dapat dilakukan peran orang tua agar mengerti tentang kodrat perkembangan anak manusia, mengerti akan pentingnya pendidikan dalam keluarga, mengerti posisi orang tua sebagai pendidik anak yang strategis dalam keluarga. Hal ini dapat diperoleh dengan memberikan pendidikan keada mereka (orang tua). Demikian pula menurut Lithwood (dalam Pidarta : 168) kultur pendidikan keluarga yang positif dapat dikembangkan melalui pemberian contoh2 dan penjelasan kepada anak, seperti contoh perilaku/ teladan yang baik, maupun contoh di luar yang perlu ditiru dan contoh yang jelek dihindari.
23. Mengapa pada pendidikan non-fromal dan informal juga perlu dilakukan pengembangan afeksi? (Hal 109 : 3)
Jawab :
Karena pengambangan afeksi ini sebagian besar waktunya dilakukan di pendidikan informal, dalam keluarga dan masyarakat, sedangkan di formal dan nonformal selain jam pelajarannya terbatas juga karena waktu yang dialami peserta didik hanya sebentar.
Akan lebih baik jika ketiga jalur pendidikan dikelola bersama sebagai jaringan pendidikan, sehingga terjadi saling mendukung antar jalur pendidikan demi pengembangan peserta didik, khusunya dalam pengembangan afeksi, termasuk pembudayaan Pancasila.
Tambahan : Sebagaimana yang dikemukakan Prof. Made dalam artikel beliau yang berjudul Pengembangan Pendidikan Informal. Disana beliau kemukakan bahwa jika pendidikan informal tidak ditangani dengan baik, sejajar dengan jalur2 pendidikan lainnya, maka dapat dipastikan bahwa sukar dicapai tujuan untuk mencetak individu2 yang mamapu mengelola kehidupan diri sendiri dalam dunia yang cepat sekali berubah ini, untuk hidup secara damai, demokratis, menghargai HAM, dan bisa mengembangkan dirinya sendiri. Jadi sebagaimana saran dari Rachman (dalam Pidarta : 157) perlu untuk dilakukan kerja sama, saling tukar menukar informasi, dan saling mengisi antar jalur pendididkan, terutama agar mental dan moral anak bangsa ini lebih cepat dapat diperbaiki.

E. PERTANYAAN TENTANG : EVALUASI AFEKSI DAN BUDAYA
24. Apa perbedaan antara alat evaluasi kognisi dan afeksi? (Hal 110 : 2-3)
Jawab :
Alat evaluasi yang dipakai untuk keperluan mengukur kognisi adalah tes prestasi belajar dan daftar pertanyaan. Tes ini hanya untuk mengetahui penguasaan materi pelajaran yang berorientasi akademik (kognisi)
Sedangkan alat evaluasi afeksi masih merupakan masalah yang dihadapi para pendidik. Adapun cara untuk mengukur afeksi termasuk juga budaya Pancasila dapat dilakukan dengan tes keperibadian dan mengobservasi perilaku dan afeksi peserta didik. Cara kedua inilah yang disarankan pemerintah melalui SNP, karena cara kedua ini lebih praktis, sebab semua pendidik dapat melakukannya.
Tambahan : Alat evalusi afeksi yang lebih praktis adalah observasi perilaku, dan hal ini dapat dilakukan dalam bentuk skala penilaian sehingga hasil evaluasi bisa berbentuk skor atau angka.
25. Apa Kelebihan dan kekurangan cara evaluasi afeksi yang pertama dan kedua? (Hal 111 : 2-3)
Jawab :
No Cara Evaluasi Kelebihan Kekurangan
1 Tes Keperibadian Sudah baik, karena tingkat validitas dan reliabelitas tes bisa ditentukan Kesulitannya dalam merumuskan tes, karena tes seerti ini hanya bisa di buat oleh ahli psikometri. Para pembuat tes psikologi ini tidak banyak jumlahnya di Indonesia.
Lebih baik dari cara pertama
2 Observasi Perilaku/ Afeksi Lebih praktis, karena semua pendidik dapat melakukannya.
Dapat diterapkan di Indonesia Tidak dapat diketahui secara jelas atau pasti apakah proses observasi yang dilakukan oleh pendidik betul atau bias
Selain itu, bisa terjadi Haloefek, artinya hasilnya dipengaruhi oleh hubungan pendidik dengan peserta didik.

26. Apa saja yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran, agar dapat menerapkan evaluasi afeksi dengan baik?
Jawab :
Sebelum menerapkan cara evaluasi kedua (observasi), maka guna memperoleh hasil yang baik maka peserta didik dan orang tua perlu diberikan penjelasan terlebih dahulu tentang proses dan hasil evaluasi ini, peserta didik bisa di dalam kelas oleh pendidik sedangkan orang tua, bisa dalam pertemuan tertentu.
Ada 5 (lima) hal yang perlu dijelaskan antara lain : 1) evaluasi dilakukan oleh semua pendidik, 2) hasil evalusi dapat dihimpun sendiri oleh masing2 pendidik atau dapat diserahkan keada pendidik mapel yang banyak mengandung afeksi, 3) observasi tidak perlu dilakukan secara rinci, cukup yang berperilaku kurang baik dan baik sekali, 4) pedoman obeservasi dalam bentuk skala penilaian, 5) hasil evaluasi dimasukkan ke dalam rapor, sama dengan hasil skor evaluasi kognisi maupun psikomotor.
27. Kapan evaluasi afeksi kepada peserta didik ini dilakukan oleh pendidik dalam pembelajaran? (Hal 113 : 1)
Jawab :
Evaluasi afeksi dapat dilakukan oleh pendidik dalam pembelajaran yakni kapan saja, sebagai evaluasi formatif. Sedangkan khusus untuk 4 mata pelajaran yang banyak mengandung afeksi (agama, PKN, Pancasila dan Seni & Budaya) dapat dilakukan tes sumatif khusus tentang penguasaan materi.
Tambahan : tes formatif dan tes sumatif artinya :
28. Bagaiman cara menghimpun dan memasukkan skor afeksi dalam mata pelajaran? (Hal 115 :1)
Jawab :
Cara menghimpun dan memasukkan skor afeksi ada 2 alternatif, yaitu :
1) menggunakan sistem penilaian afeksi dengan 4 mapel yang banyak mengan dung afeksi, sehingga penghimpunan skor dilakukan dengan cara ¼ pendidik menyerahkan ke agama, ¼ ke Pancasila , ¼ ke PKN, dan ¼ ke seni&budaya, selanjutnya dikompilasikan dan skor-skor tersebut digabungkan dengan skor hasil evaluasi sendiri, sehingga menghasilkan skor tunggal
2) semua pendidik mengobservasi dan mengevaluasi sendiri, dirata-ratakan, kemudian dimasukkan ke raport. Dengan demikiansetiap mata pelajaran mengandung skor kognisi, skor afeksi, dan skor psikomotor.
Aletrnatif 1 Alternatif 2
Semua pendidik menilai
Nilai diserahkan kepada Pembina/ guru mata pelajaran
1. Agama
2. Kewarganegaraan
3. Pancasila
4. Seni dan budaya
Guru-guru ini kemudian mengkolaborasikan skor da menggabungkan dengan skor sendiri, sehingga menjadi skor tunggal Semua pendidik menilai
Nilai dimasukkan sendiri ke dalam raport
Sehingga setiap pelajaran mengandung unsur skor
1. Afeksi
2. Kognisi
3. Psikomotor

Tambahan : disarankan untuk menggunakan alternatif 2, karena proses memasukkannya skor afeksi ke dalam raport lebih mudah dari alternatif 1. Selain itu, akan tampak secara nyata bahwa setiap mata pelajaran akan dinilai dari tiga aspek yakni afeksi, kognisi, dan psikomotor. Aspek penilaian seperti ini terlihat dengan jelas dalam raport dan benar-benar sesuai dengan teori evaluasi. Dengan demikian perhatian terhadap aspek yang ada dapat mendukung pengembangan manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

RANGKUMAN PERTANYAAN-PERTANYAAN:
PENGEMBANGAN AFEKSI DAN PEMBUDAYAAN PANCASILA

1. Menurut pendapat saudara mengapa pengembangan afeksi sangat erat kaitannya dengan pembudayaan Pancasila? (Hal 91 : 1)
2. Mengapakah istilah, pengertian serta pentingnya afeksi seolah-olah belum banyak dikenal orang, sehingga mereka tidak menjadikannya sebagai hal yang penting dalam pencapain tujuan pembelajaran? (hal 91 : 2)
3. Mengapakah pengembangan afeksi terabaikan cukup lama dalam Pendidikan di Indonesia? (Hal 91 : 3)
4. Apa dampak negatif jika pendidikan khususnya di Indonesia tidak mengindahkan pengembangan aspek afeksi pada peserta didik? (Hal 92 : 1)
5. Apa alasan kuat yang mendorong kita harus lebih mengutamakan pengembangan afeksi dari pada kognisi pada peserta didik? (Hal 93-93 : 1-2)
6. Jika kita mebandingkan antara aspek kognisi dan afeksi, manakah diantara kedua aspek tersebut yang lebih dominan membantu sesorang dalam meningkatkan kualitas kehidupannya? (Hal 93 : 2)
7. Tolong berikan gambaran secara jelas sehingga dapat kita menarik benang-merah, hubungan antara struktur jiwa manusia menurut Dewantara dengan budaya itu sendiri? (hal 94 : 2)
8. Pada zaman Orde Baru, pernah diuayakan dan dilakukan pembudayaan Pancasila melaui penataran P-4, namun hal ini dianggap gagal. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? (Hal 96 : 3)
9. Apa beda antara pengertian budaya dalam makna sangat luas dan agak terbatas? (Hal 99 : 2)
10. Kita sering mendengar istilah yang sangat erat sekali yakni kebudayaan dengan peradaban, apakah sebanarnya persamaan dan perbedaan antara kebudayaan dengan peradaban?, (Hal 100 : 1)
11. Apakah oriantasi dari pengembangan afeksi dan pembudayaan Pancasila bagi Pendidikan di Indonesia? (Hal 100 : 2)
12. Mengapa pengembangan AFEKSI jika dikaitkan dengan BUDAYA dan PANCASILA menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya khususnya bagi pendidikan di Indonesia? (Hal 101 : 1)
13. Apakah saat ini pengembangan efeksi telah diupayakan dalam pendidikan di Indonesia serta bagaimana kenyataanya di lapangan? (Hal 101 : 2)
14. Mengapa proses pengembangan afeksi dijadikan satu dengan yang cara membudayakan Pancasila? Bagaimanakah jika seandanya dikembangan secara terpisah? (Hal 102 : 2-3)
15. Apakah maksudnya Pancasila dianggap keramat? (Hal 103 : 1-2)
16. Apakah yang dimaksud dengan hak Otonom dalam kaitannya dengan pembudayaan Pancasila? (103 :2)
17. Saat ini masih bayak yang belum faham tentang pembudaaan Pancasila itu sendiri, demikian juga tentang afeksi. Lalu bagaimanakah cara kita membudayakan Pancasila tersebut secara sistematis, sehingga kita dapat sekaligus mengembangkan afeksi peserta didik dan tidak akan terjebak dalam pengembangan kognisi yang sifatnya hafalan saja? (Hal 105 : 2-3)
18. Bagaimanakah proses pembelajaran untuk mengembangkan afeksi termasuk membudayakan Pancasila tersebut? (Hal : 105 : 2)
19. Dalam praktek pembelajaran selama ini, apa saja kasus yang menjadi masalah di dalam kelas, yang berkaitan dengan pengembangan afeksi? (Hal 106 : 3)
20. Apa akibat/ dampak dari aspek afeksi yang selama ini dijadikan dampak pengiring saja? (Hal 107:2)
21. Apakah pengembangan afeksi cukup hanya pada mata pelajaran Pancasila saja? (Hal 107 : 3)
22. Bagaimanakah cara pengembangan afeksi di pendididikan non-formal maupun informal? (Hal 108 : 2-3)
23. Mengapa pada pendidikan non-fromal dan informal juga perlu dilakukan pengembangan afeksi? (Hal 109:3)
24. Apa perbedaan antara alat evaluasi kognisi dan afeksi? (Hal 110 : 2-3)
25. Apa Kelebihan dan kekurangan cara evaluasi afeksi yang pertama dan kedua? (Hal 111 : 2-3)
26. Apa saja yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran, agar dapat menerapkan evaluasi afeksi dengan baik? (Hal 112 : 2-3)
27. Kapan evaluasi afeksi kepada peserta didik ini dilakukan oleh pendidik dalam pembelajaran? (Hal 113 : 1)
28. Bagaiman cara menghimpun dan memasukkan skor afeksi dalam mata pelajaran? (Hal 115 :1)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar